TRASNCO INDONESIA

TRASNCO INDONESIA

TRASNCO INDONESIA


E-Commerce Indonesia Memasuki Babak Baru: Pajak, Biaya Seller, dan Persaingan Platform

Posted by: 29-09-2026 08:57 WIB

-

E-Commerce Indonesia Memasuki Babak Baru: Pajak, Biaya Seller, dan Persaingan Platform
-


INFOBRAND.ID - E-commerce Indonesia sedang berubah. Jika beberapa tahun lalu pembicaraan kita banyak berkisar pada pertumbuhan pengguna, promo besar, gratis ongkir, dan perang diskon, kini persoalannya mulai berbeda. Seller semakin memperhitungkan biaya, platform mencari model bisnis yang lebih sehat, sementara pemerintah semakin serius menata transaksi yang terjadi di ruang digital.

Menurut saya, perubahan ini menunjukkan bahwa e-commerce Indonesia mulai memasuki tahap yang lebih dewasa. Pertanyaannya bukan lagi hanya berapa banyak transaksi yang bisa diciptakan, tetapi berapa besar nilai yang benar-benar tersisa dari setiap transaksi tersebut.

Bagi seller, pertanyaan itu sangat penting. Berjualan di marketplace sekarang memiliki perhitungan yang jauh lebih kompleks. Ada biaya layanan, iklan, program promosi, afiliasi, dan berbagai komponen lain yang pada akhirnya memengaruhi margin. Ketika aspek perpajakan ikut diperhitungkan, seller harus semakin memahami struktur biaya bisnisnya.

Saya melihat seller hari ini tidak cukup hanya pandai menjual. Mereka juga harus pandai membaca angka. Omzet yang meningkat memang terlihat menyenangkan, tetapi omzet besar belum tentu menghasilkan keuntungan yang besar. Jika biaya mendapatkan satu transaksi terus meningkat, mengejar volume tanpa menghitung margin justru dapat menjadi masalah baru.

Di sisi lain, penataan pajak dalam perdagangan digital menurut saya merupakan konsekuensi dari besarnya aktivitas ekonomi yang sudah berpindah ke ranah online. E-commerce bukan lagi kanal tambahan. Bagi banyak pelaku usaha, marketplace bahkan sudah menjadi salah satu kanal penjualan utama.

Namun ada satu hal yang perlu menjadi perhatian. Karakter seller di marketplace sangat beragam. Ada perusahaan besar, brand nasional, distributor, UMKM, hingga individu yang baru memulai usaha. Karena itu, penerapan aturan perlu dibarengi dengan sistem yang sederhana, informasi yang mudah dipahami, dan edukasi yang memadai. Jangan sampai pelaku usaha kecil justru lebih sibuk memahami administrasi daripada mengembangkan usahanya.

Perubahan lain yang menurut saya menarik adalah bentuk persaingan antarpemain. Kita tidak lagi bisa melihat e-commerce hanya sebagai persaingan antara satu marketplace dengan marketplace lainnya.

Perjalanan konsumen sudah jauh lebih luas. Seseorang bisa pertama kali mengetahui sebuah produk dari video pendek, melihat review seorang kreator, bertanya melalui kolom komentar, membandingkan harga di marketplace, kemudian melakukan pembelian. Konten, komunitas, pembayaran, logistik, dan perdagangan semakin terhubung dalam satu perjalanan konsumen.

Artinya, persaingan ke depan bukan hanya soal siapa yang memberikan diskon terbesar. Siapa yang paling mudah digunakan, paling dipercaya, paling relevan, dan paling memahami kebiasaan konsumen akan memiliki posisi yang semakin kuat.

Perubahan ini juga membawa konsekuensi bagi brand. Ketika biaya berjualan semakin diperhitungkan, ketergantungan terhadap diskon perlu mulai dikurangi. Promo tetap penting untuk menarik perhatian dan mendorong pembelian pertama, tetapi sulit menjadikannya sebagai fondasi pertumbuhan dalam jangka panjang.

Brand perlu mulai bertanya: jika besok tidak ada gratis ongkir atau diskon besar, apakah konsumen masih akan membeli produk kita?

Jawabannya kembali pada nilai yang dibangun. Produk yang baik, pelayanan yang responsif, reputasi yang kuat, pengalaman belanja yang mudah, serta hubungan dengan konsumen akan semakin menentukan. Harga tetap penting, tetapi bukan satu-satunya alasan orang memilih.

Saya melihat inilah babak baru e-commerce Indonesia. Platform dituntut menemukan keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis. Seller harus semakin disiplin menghitung margin. Brand harus memiliki alasan yang lebih kuat untuk dipilih. Sementara konsumen akan semakin kritis dalam menentukan di mana dan dari siapa mereka membeli.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan e-commerce tidak bisa selamanya hanya dilihat dari besarnya transaksi. Yang lebih penting adalah apakah transaksi tersebut menciptakan nilai yang sehat bagi seluruh pihak di dalamnya.

Karena itu, pertanyaan dalam persaingan e-commerce ke depan mungkin bukan lagi “siapa yang paling murah?”, melainkan “siapa yang mampu memberikan nilai terbaik dan tetap relevan bagi konsumen?”

Menurut saya, mereka yang mampu menjawab pertanyaan itulah yang akan lebih siap menghadapi fase berikutnya dari pertumbuhan e-commerce Indonesia.

Sumber  :   https://infobrand.id/e-commerce-indonesia-memasuki-babak-baru-pajak-biaya-seller-dan-persaingan-platform.phtml